
 |
 |
|
|
|
Sunday, November 05, 2006
Slank, Iwan Fals, dan Qasidah . . .
Memasuki akhir 2005 lalu, memori kanak-kanakku terkuak kembali, masa yang sangat mengasyikkan dan dipenuhi dengan pengalaman religius. Pagi hingga siang aku belajar di Sekolah Dasar (SD). Siang hingga sore mengaji di Madrasah Ibtidaiyah (MI), orang kampungku menyebutnya Sekolah Arab. Ini karena proses pembelajarannya menggunakan huruf Arab, meski bahasanya tetap Jawa (pegon).
Yang sangat berkesan dari semua kenangan di masa itu bukanlah proses pembelajarannya. Tapi, peringatan Maulid Nabi Muhammad dan Isra' Mikraj yang selalu terdengar alunan musik Gambus Qasidah. Ya, musik yang hingga dewasa ini masih aku sukai. Musik yang sebenarnya selalu ku dengar di sela-sela perayaan keagamaan lain di kampungku dulu. Misalnya, sunatan (khitanan), pernikahan, dan pemberangkatan para jama'ah haji.
Saking seringnya mendengarkan lagu Qasidah, hingga kini aku masih ingat beberapa lagu yang menurutku sangat tidak usang dan cocok untuk direfleksikan kembali sebagai salah satu contoh pembacaan terhadap realitas. Aku sering merasa bahwa ini adalah alternatif untuk lagu-lagu Slank dan Iwan Fals yang kreatif dan menyadarkan itu. Kedua yang terakhir ini sangat digandrungi oleh kalangan muda masa kini, tapi tidak untuk Qasidah, kecuali yang memiliki kenangan tersendiri, seperti aku mungkin. Ini boleh jadi karena pergeseran selera musik dalam sejarah, sebab gambus Qasidah cenderung bermusik Dangdut, meski group Al-Manar pun pernah Nge-pop. Sedangkan Iwan Fals, meski sudah lama, dinamika bermusiknya tidak monoton. Slank, tentu lebih gaul.
Beberapa group Qasidah yang masih aku ingat itu, antara lain: Nasidaria, Al-Manar, El-Hawa, dan Nidaria. Tentu masih banyak group yang aku sudah tidak begitu kenal, lupa. Tapi, aku masih bisa mengenal beberapa lagu mereka. Dan, di antara lagu yang aku sebut sebagai alternatif contoh pembacaan realitas, misalnya: Tahun 2000 (pembacaan terhadap era modernisasi dan industrialisasi), Wartawan Ratu Dunia (analisis framing terhadap media massa), Dunia dalam Berita (antara globalisasi informasi dan pluralisme peristiwa), Lingkungan Hidup (garden city), Abad Modern (dehumanisasi masyarakat modern), Perdamaian (paradoks para penyeru perdamaian), Wanita dan Kecantikan (konsemerisme dan eksploitasi perempuan), PHK (antara pengangguran dan modal kerja), dan lain sebagainya.
Hampir semua lagu yang aku sebut memiliki karakter profetik. Membaca realitas dengan analisis sosial dan kritis. Dan, aku merasa pembacaan itu digerakkan oleh iman yang transenden. Dengan kata lain, lagu-lagu Qasidah tersebut berawal dari sebuah proses keimanan yang diturunkan dalam gerak dinamis realitas. Berbeda dengan Iwan Flas dan Slank yang mengawali pembacaan dengan berbekal etika moral. Ya, perbedaannya pada pijakan mereka, antara agama dan etika moral. Meskipun kita tahu bahwa agama berisi nilai-nilai moral, tapi ia bersumber dari kitab suci.
Yang jelas, aku merasa enjoy dengan gambus Qasidah dan banyak mendapatkan kesadaran realitas, dibanding hanya sekedar Nge-fans. Semoga masih ada yang peduli Qasidah seperti saya dan Orkes Gambus Al-Jami'ah UIN Sukijo, mungkin. Salam buat GILA'S yang dulunya aku kenal sebagai pentolan Al-Jami'ah, he he.
Posted at 03:55 pm by zifa
Permalink
Tuesday, July 04, 2006
Keramaian Cerpen dan Novel Kuntowijoyo
Keasyikan membaca cerpen-cerpen dan novel-novel Kuntowijoyo membuatku lupa bahwa aku membaca. Seperti layaknya seorang tokoh dalam cerpen aku merasa berada dalam suasan yang diciptakan oleh Kuntowijoyo. Jadi, jelas sudah bahwa aku menjadi tidak memerhatikan bagaimana kira-kira proses pencitaan cerita tersebut.
Hal ini sangat berbeda dengan kawanku, Ikhwan namanya. Dia begitu getol memerhatikan pelbagai kekhasan yang ada dalam cerpen maupun novel Kuntowijoyo. Dalam sebuah tulisannya yang secara pribadi ia berikan langsung kepadaku, ia mengungkapkan adanya keramaian manusia di dalam cerpen dan novel Kuntowijoyo. Seperti ada banyak orang di sana. Banyak orang, dalam artian sesungguhnya. Hilir-mudik, saling menyapa, ngobrol, bertukar cerita, tidak jarang bertengkar, kadang pula eyel-eyelan.
Selanjutnya, Ikhwan menilai berbeda dengan cerpen Indonesia mutakhir, meskipun kata banyak pengamat dianggap sebagai kontekstual, senyatanya adalah dunia sunyi sepi, ngungun, dan memilih terasing. Selain tokoh Humam dan Barman dalam novel Khotbah di Atas Bukit dan tokoh Kakek dalam cerpen “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”, Ikhwan merasa jarang sekali menemukan tokoh-tokoh Kunto—untuk meminjam frasa terkenal Chairil Anwar—iseng sendiri, asyik-masyuk dengan dirinya sendiri, melulu bercakap dengan isi kepalanya sendiri.
Manusia-manusia rekaan Kunto, bagi Ikhwan hadir di ruang-ruang yang memungkinkannya bertemu dengan banyak orang, saling menyapa, kadang kala bersitegang, dan yang jelas interaktif. Tak heran, kita akan menemukan nama-nama tempat, mulai dari rumah, apartemen, gardu ronda, kantor RT atau kantor desa, surau, musholla atau masjid, dan tempat-tempat sejenisnya bertebaran dalam cerpen-cerpen Kunto.
Seperti telah disinggung sebelumnya, manusia dalam cerpen Kunto adalah orang-orang yang tak suka mengurung diri di kamar. Mereka, manusia dalam cerpen-cerpen Kunto itu, sadar bahwa mereka adalah bagian integral dari sebuah ikatan yang bernama masyarakat. Mereka itu, walau kadang-kadang ingin mencoba keluar dari “kerumunan” dan hendak mrncoba nikmatnya kesendiran, pada akhirnya adalah mahluk-mahluk yang tak lengkap menjadi manusia tanpa manusia yang lainnya. Dengan sedikit mengecualikan si kakek yang asketis, si bapak yang mekanis, dan si bocah “aku” yang sok filosofis dalam “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”, manusia-manusia rekaan Kunto adalah manusia yang senantiasa sosial.
Dengan berbekal pengamatan Ikhwan tadi, aku mencoba meneliti ulang bacaanku terhadap karya sastra Kuntowijoyo yang pernah aku baca. Ternya benar. Aku setuju dengan amatan yang dilakukan oleh kawan Ikhwan.
Posted at 10:25 pm by zifa
Permalink
Thursday, December 22, 2005
KENALI BMT SEJAK DINI Oleh : Muttakhidul Fahmi
Baitul Maal wat Tamwil (BMT) adalah sebuah Lembaga Keuangan Mikro Syari’ah yang berbadan hukum koperasi simpan pinjam. Saat ini BMT telah banyak dikenal oleh masyarakat, terutama sekali yang berdomisili di pedesaan. Usaha pendirian ini biasanya dimotori oleh para tokoh masyarakat, baik yang berada di lingkungan masjid, organisasi kemasyarakatan Islam, ataupun pesantren. Tidak ayal jika BMT menjadi dekat dengan masyarakat, sebab proses kelahirannya tidak terlepas dari budaya lokal lingkungan masyarakatnya.
Bahkan bila kita mencoba untuk meneliti lebih mendalam lagi, kemunculan BMT sesungguhnya merupakan usaha-usaha pemberdayaan umat yang selama ini berada dalam kondisi di bawah garis kesejahteraan. Latar belakang ini juga tidak terlepas dari sistem perekonomian yang tidak pernah memihak kepada umat. Lebih parah lagi jeratan para renternir (bank plecit, bank titil, yang tak berbadan hukum) yang semakin mencekik dengan kelipatan bunga (riba) yang tak mampu terbayar oleh umat.
Sebagai sebuah Lembaga Keuangan Mikro, nama Baitul Maal wat Tamwil muncul pertama kali pada tahun 1992 dengan nama BMT Bina Insan Kamil yang berada di jalan Pramukasari Jakarta. Pendiri BMT tersebut adalah Aries Mufti yang kini menjadi ketua Asosiasi BMT Nasional Indonesia (ASBINDO). Nama Baitul Maal wat Tamwil merupakan dua konsep (Baitul Maal dan Baitut Tamwil) yang digabungkan Aries menjadi satu.
Jauh sebelumnya, di kota Bandung sekitar tahun 1980-an kelompok aktivis musholla Salman ITB telah mendirikan sebuah lembaga keuangan “Baitut Tamwil” yang diberi nama “Teknosa”. Selanjutnya kelompok Amin Aziz, Dawam Raharjo dan Adi Sasono membawa konsep lembaga keuangan ini ke Jakarta dengan mendirikan koperasi “Ridlo Ilahi”. Koperasi ini juga dijalankan dengan prinsip syari’ah. Tetapi sayang, kondisi politik saat itu belum berpihak pada sistem ekonomi kerakyatan apalagi ekonomi syari’ah seperti sekarang ini. Hingga akhirnya, kedua lembaga tersebut tidak dapat bertahan lama.
Secara financial, Baitul Maal menggali dana dari zakat, infak dan shodaqah (ZIS), sedangkan Baitul Tamwil merupakan akumulasi simpanan shohibul maal. Dengan demikian, Baitul Maal wat Tamwil (BMT) merupakan intermediasi antara aghniya dan dhu’afa.
Dengan menggunakan pola solidaritas, pelatihan dan pencerahan, BMT sebagai penyedia layanan jasa keuangan syari’ah berusaha memberdayakan umat secara mandiri menuju kepada kesejahteraan. Ini adalah sebuah usaha yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian, sebab pemberdayaan terhadap masyarakat (umat) terutama rakyat kecil merupakan agenda memandirikan masyarakat melalui workfare (pembiayaan usaha). Sebagai bangsa yang memiliki label berkarakter klien (bangsa yang ketergantungan oleh patron), sudah saatnya kita memacu gerak transformasi menuju bangsa yang mandiri. Salah satunya melalui Lembaga Keuangan Mikro seperti BMT.
Dari beberapa sumber
Posted at 01:37 pm by zifa
Permalink
Tuesday, November 22, 2005
Aku telah lupa mulai kapan aku mengenal yang biasa disebut sebagai Ekonomi Syari’ah. Beberapa kakakku adalah seorang pegawai/ karyawan BMT di rumah yang jauh sana. Ia bercerita tentang beberapa produk BMT yang menurutku lebih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat menengah ke bawah. Bahkan kebanyakan masyarakat yang sangat bawah. Bagaimana tidak? Produk pembiayaan yang bersifat al-mudlorobah (BMT sebagai pemodal, masyarakat kecil sebagai mudlorib yang dibiayai usahanya) lebih bayak diminati oleh masyarakat. Ini terjadi karena banyak yang menggunakan “kemiskinan” sebagai agunan. Maka, pedagang kecil seperti ibu-ibu/bapak-bapak yang bekerja di pasar tradisional dengan modal yang hanya puluhan ribu hingga ratusan ribulah yang di bidik para BMT.
Realitas inilah yang berjalan sebagai sebuah pemihakan ekonomi syari’ah terhadap kaum miskin Indonesia. Terutama sekali mereka yang bekerja di lingkungan pasar tradisional, yang tidak memiliki manajemen dan tidak mengetahui berapa keuntungan mereka setiap harinya (seringnya). Dengan demikian, BMT mencoba melakukan pemberdayaan dan pemandirian terhadap mereka dan mendampingi usaha mereka. Jadi BMT telah melakukan workfare, bukan welfare seperti yang dilakukan pemerintah dengan kompensasi BBM-nya, yang ditakutkan semakin memanjakan rakyat.
Posted at 02:30 pm by zifa
Permalink
|
|

|
|
|
zifaMay 28th 1980 (Age 28) Male Jogjakarta
Fahmi, alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penulis buku Islam Transendental; Menelusuri Jejek-jejak Pemikiran Islam Kuntowijoyo. email: aikfa@yahoo.com.
Hp/sms: 081328367444
|